ANTOLOGI PUISI
YANG
Yang datang saat aku sepi
Yang menyinari saat aku dalam gelap
Yang mendampingi saat aku menangis
Yang mengulur tangan saat aku tenggelam
Yang menghapus air mata saat mataku basah
Yang mengobati saat aku lagi luka
Yang memapah saat aku lumpuh
Yang menengok saat aku sakit
Yang menjaga saat aku sehat
Yang merangkul saat aku takut
Yang memeluk saat aku cemas
Yang mengingatkan saat aku lupa
Yang menegur saat aku khilaf
Yang membangunkan saat aku lelap
Yang mengantar saat aku berangkat
Yang menyambut saat aku datang
Yang merasakan saat aku sedih
Yang menyenangkan saat bertemu
Yang mengenang saat berdoa
KAU-lah yang datang
(Surabaya, Juni 1993)
Di Balik Dinding Itu Ada Rahasia
Untuk BULAN
di balik dinding-dinding itu
ada warna-warna
ada endapan suara-suara
mengendapkan kenangan maha indah
tak ada yang tahu
hanya seorang yang telah lama meninggalkannya
tak ada yang ‘kan menengok-nengoknya lagi
karena tak ada yang berani terluka
tak ada yang ‘kan membuka-bukanya lagi
selain terkelupas
sendiri
oleh
takdir
di balik dinding-dinding itu
ada rahasia-rahasia
yang menyimpan gerak-gerak
yang menyimpan getar-getar lembut
menguatkan pori-porinya semakin kukuh
tak ada yang menyentuhnya
hanya seorang yang setia menikmati sakit maha indah
tak ada yang kan menyentuhnya lagi
karena tak ada yang mampu merobohkannya
selain rubuh
sendiri
oleh
takdir
(Malang, Mei 1999)
BENING II
Embun,
Sudah menjadi nasibnya
Hidup dan mati berkali-kali
Kerling matanya adalah cahaya keindahan
Kesejukannya adalah obat bagi pori-pori hayat
Kejernihannya memberi nuansa kebeningan nalar
Kemungilannya memberi hajat bagi kekerdilan
Mungkin sudah jadi garisnya
Sunnah Tuhan berlaku
Angin menggelindingkannya dari kelopak bunga keharuman
Dari daun tempatnya bertahta
Debu meracuninya dengan mengocok mata-matanya
Melamurkan kebeningan, mengoyak keindahan, merusak warna jernihnya
Panas juga tak memberinya peluang lama-lama hidup
Selain sedini hari
Ada dan tiada adalah nasibnya
Hujan pun tidak membuatnya lebih jernih
Malah memperkosa kesendiriannya menjajah kemerdekaannya
Lagi-lagi sudah nasibnya hidup dan mati berkali-kali
Tiada henti
Bila hakikatnya tiada
Siapa yang akan mengobati mata
Yang akan menenteramkan dada
Yang akan menyuburkan kepala
Yang akan membiaskan cahaya pagi
Yang akan menurunkan ilham dari langit
Yang akan menyimpan misteri manusia
Yang akan menampung rahasia samudera
Yang akan menyiram ruh
Yang akan mengingatkan manusia kepada Tuhan
Siapa?
Siapa yang kan bertahta di dalam kedamaian
Yang akan menari gembira menyambut pagi
Yang akan turun dari langit membawa segala rahasia
Yang akan menguapkan derita segala masalah
Yang akan menampakkan kebenaran
Yang akan membulatkan semangat
Yang akan mengerlingkan tanda tanya
Siapa?
Bening adalah salah satu sifatnya
Dia tidak akan pernah keruh
Tidak akan pernah berdusta
Tidak akan pernah menutup diri
Tidak akan pernah pelit
Tidak akan pernah bersembunyi
Karena semua itu melawan sifatnya
Bila sifat itu tiada
Dia tiada
Sejuk adalah salah satu sifatnya
Dia tidak akan pernah cupet
Tidak akan pernah gelidah
Tidak akan pernah lusuh
Tidak akan pernah jahat
Tidak akan pernh jadi api
Karena semua itu melawan sifatnya
Bila sifat itu tak terpenuhi
Dia takkan pernah ada
Bulat adalah salah satu sifatnya
Dia tidak akan pernah ingkar
Tidak akan pernah patah
Tidak akan pernah bimbang
Tidak akan pernah cerai berai
Tidak akan pernah pecah
Tidak akan pernah sepi
Karena semua itu melawan sifatnya
Bila sifat itu terkalahkan
Dia akan berakhir
Misterius adalah salah satu sifatnya
Dia tidak akan pernah kekurangan
Tidak akanpernah kehilangan
Tidak akan pernah jemu menyimpan rahasia
Tidak akan pernah jenuh menurunkan kabar
Tidak akan pernah luput tentang sesuatu
Tidak akan pernah penuh menampung segalanya
Karena semua itu sifatnya
Bila sifat itu hilang dia takkan pernah datang
Menguap adalah salah satu sifatnya
Dia tidak akan pernah lama bertahta
Tidak akan pernah habis menyimak
Tidak akan pernah bosan mengaji
Tidak akan pernah menyalahkan takdir
Tidak akan pernah letih mengadukan keluhan
Tidak akan pernah berhenti berbincang
Tidak akan pernah kehilangan sayap
Karena semua itu melawan sifatnya
Bila sifat itu tak pernah dia punya
Dia tak pernah akan ada
(Malang, Februari 1999)
Ya RasululLah
Yang lemah lembut memimpin tetangga
Yang ahli dalam menderma dan bermurah hati
Yang sebaik-baik makhluk
Yang suci dari dosa
Yang bagaikan bintang bercahya
Yang nurnya meninggikan derajat Adam
Yang menghindarkan Nuh dari bahaya topan
Yang memberikan kekuatan kepada Ibrahim
Yang di belakangnya terdapat tanda kenabian
Yang perintahnya dipatuhi awan
Yang dahinya cemerlang dan berambut hitam
Yang hidungnya mancung alif
Yang mulutnya seperti mim
Yang keningnya melengkung nun
Yang mendengar gerit kalam Lauh Mahfud
Yang pandangannya tembus ke langit tujuh
Yang harum tapak kakinya penyembuh unta
Yang diimani binatang Dhab
Yang pohon-pohon bersalam dengan hormat
Yang batu-batu berbicara kepadanya
Yang batang kurma menangis ditinggalkannya
Yang kedua tangannya tampak berkah
Yang hatinya tidak pernah tidur
Yang memaafkan bila disakiti
Yang diam bila dimusuhi
Yang berbicara dengan Allah tanpa penghalang
Yang melakukan Isra’ di malam hari
Yang hanya Allah penghiburnya
Yang menjadi rahmat bagi sekalian alam
Yang menjadi penghulu para nabi
Yang mulia keturunannya
Yang lurus perjalan hidupnya
Yang Allah dan malaikat bersolawat kepadanya
Yang ilmu seluas laut
Yang tutur katanya adalah al Qur’an
Yang nurnya tercipta dua ribu tahun sebelum Adam
Yang yang lahirnya di Makkah
Yang hijrahnya di Madinah
Yang ummatnya sebaik-baik ummat
Yang sepertiga ummatnya tanpa hizab ke surga
Yang diciptakan sebelum segala sesuatu tercipta
Yang memenuhi alam dengan nurnya
Yang arsy pun bergoncang karena kelahirannya
Yang lahir dalam keadaan bersujud
Yang lahir dalam keadaan berkhitan
SubhanalLah
Ya RasululLah, salam alaika!
(Malang, Agustus 1999)
Yang Menggoda Untuk Mencinta
Bila semua sudah tiada
Baru terasa berarti
Bila semua telah hilang
Baru terasa hadir
Bila semua sudah sunyi
Baru terasa lengkap
Bila semua telah usai
Baru terasa genap
Tapi apa yang pernah ada, tiada
Yang pernah datang, hilang
Hanyalah perjalanan
Yang takkan ada perjalanan itu sendiri
Kecuali melalui dan meninggalkan tapakan kaki
Tapi apa yang pernah ada tiada
Yang pernah datang hilang
Hanyalah samudera kasih-Nya
Yang takkan ada kasih-Nya itu
Kecuali selalu menggoda untuk mencinta
(Sumenep, Oktober 1994)

