Free Web space and hosting from freehomepage.com
Search the Web


SASTRA BUAT TUHAN

TENTANG SITUS INI

ANOTOLOGI CERPEN

ANTOLOGI PUISI

SURAT SURAT ISTIMEWA

PANORAMA

KONTAK

FOTO ARSIP

ANOTOLOGI CERPEN


NAMA- NAMA YANG SAYA KENCINGI

Oleh S. Herianto

Dari enam milyar lebih penduduk bumi, Rico adalah salah satu dari seratus orang yang dianggap aneh di dunia. Ia warga negara Indonesia. bagaimana tidak dianggap aneh bila ia mempunyai kebiasaan kencing yang berbeda dengan orang kebanyakan. Setiap kali ia mau kencing atau bahasa halusnya mau buang air kecil, dia harus mencari tempat lapang berupa tanah atau pasir di manapun ia berada. Ia tak memerlukan toilet atau kamar kecil atau juga tempat jongkok yang tersembunyi. Ia tak memerlukan privasi di bagian ini. Ia bisa kencing di pasar, di kampus, di alun-alun, atau dimana saja yang ia mau. Asal tempatnya bertanah atau berpasir. Ia tidak perlu merasa malu melakukannya. Ia sudah terbiasa sejak duduk di SMU dulu. Malah sejak masuk FISIP di perguruan tinggi terkenal di Yogya, kebiasaan kencing itu telah menjadi prinsip dalam hidupnya.

Setiap kali ia mau buang air kecil, selain butuh tempat yang bertanah atau berpasir, ia juga butuh menuliskan nama orang yang paling dibencinya hari itu. Bisa   satu nama, bisa dua, atau lebih. Ia akan menggurat dengan telunjuknya nama-nama itu lalu ia kencingi dengan nikmat. Bapak-ibunya sudah tidak lagi merasa aneh dengan gelagat puteranya. Mereka malah mendukung dan menganggap anak mereka sebagai anak yang kreatif yang bisa mengekspresikan dirinya dengan cara yang istimewa. Puteranya memiliki cara yang berbeda dalam berunjuk rasa. Yang lain daripada yang lain.  Mereka memuji apapun yang dilakukan anaknya.

Pacar Rico, Rina, juga tak menganggap kelakuan pacarnya sebagai sesuatu yang tak sehat. Menurutnya itu wajar-wajar saja. Malah hal itu  merupakan salah satu ejawantah dari seni yang ada dalam diri Rico. Itu bagus untuk kesehatan mental, katanya.

Rico merahasiakan nama siapa saja yang telah ia kencingi. Hanya kepada bapak-ibunya, adik-adiknya, pacarnya, dan teman-teman sevisinya. Ia tak mau terjadi polemik di negara ini. Ia tahu negara ini sudah sulit dan susah, tak perlu lagi ditambahi dengan hal-hal yang kurang berguna. Ia tahu media massa sekarang banyak yang kreatif---kalau tak mau dibilang usil. Bahkan banyak juga yang melanggar etika. Secara tak sadar mereka telah memicu kekerasan massa yang diakibatkan oleh tayangan atau pemberitaan yang terlalu vulgar dan terlalu berani menyajikan kekerasan. Tapi, suatu saat ia akan membuka diri. Siapa saja nama yang telah ia kencingi. Itu janjinya.

“Katanya, Anda mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan orang kebanyakan. Apa benar begitu?” tanya seorang wartawan kepadanya suatu hari saat ia mulai terkenal.

“Sebenarnya tidak juga. Sama dengan kebiasaan orang yang hobby tidur atau memelihara macan. Tidak begitu berbeda. Apa yang saya lakukan sama dengan orang lain. Hal yang masih sehat. Cuma dengan cara yang berbeda. Saya yakin kita semua punya nama-nama yang kita benci. Saya yakin juga waktu Anda kencing, Anda pernah membayangkan seseorang yang Anda benci. Rasanya Anda ingin sekali mengencingi muka orang itu. Bukankah itu sama dengan yang saya lakukan?”

Wartawan itu mengangguk-angguk. Tampaknya ia secara tak sengaja menyetujui telah berbuat hal yang sama dengan Rico walaupun ia hanya membayangkan orang yang ia benci, ia kencingi mukanya.

“Apa motif Anda berkebiasaan seperti itu?” wartawan itu melanjutkan pertanyaan.

“Sederhana sekali. Pertama, Anda tahu kencing sekarang telah bisa dijadikan obat. Kencing sudah bisa dijadikan terapi penyembuhan penyakit. Terapi urine. Kencing dapat menyembuhkan penyakit berat ataupun ringan. Siapa tahu orang yang  kita benci itu dapat sembuh dari penyakit yang membuat kita membencinya.”

“Kedua, saya hanya ingin kepuasan dan kelegaan yang istimewa, yang plus. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau kita habis kencing? Lega, nikmat, kan? Tapi, itu saja tidak cukup. Saya ingin kenikmatan yang luar biasa melebihi ejakulasi. Makanya saya selalu menuliskan nama orang yang paling saya benci di atas tanah dan kemudian mengencinginya. Kemarahan dan kebencian kita sedikit terobati.”

“Kalau boleh saya tahu, siapa saja nama orang yang telah Anda kencingi?” wartawan itu masih panasaran.

“Wah, itu belum bisa saya buka sekarang!”

“Mengapa?”

“Banyak perhitungannya. Dan yang terutama untuk menjaga stabilitas politik negeri ini.”

“Sejauh itukah?”

“Iya.”

“Apakah nama-nama itu nama-nama dari orang penting di negeri ini”

“Maaf, saya tak mau ada spekulasi.”

“Tolong, beri saya gambaran tentang apapun yang menyangkut ini karena topik ini harus saya target cetak besok!”

Rico akhirnya  mengalah sedikit dengan memberikan penjelasan secara umum. “Begini, sebenarnya nama yang saya kencingi didasarkan atas tiga prioritas. Prioritas pertama, saya peruntukkan mereka yang bersalah, tapi ngotot tak mau mengakui kesalahannya. Banyak orang yang seperti ini dalam negara kita. Dalam prioritas ini juga saya sub-prioritaskan bagi mereka yang menjabat atau  pernah menjabat sebagai pemimpin bangsa atau pejabat publik. Prioritas kedua, ialah orang-orang yang katanya pelayan masyarakat, tetapi tidak berpihak kepada rakyat. Banyak juga tipe orang yang seperti ini. Mereka yang sudah duduk di kursi jabatan lebih memikirkan perutnya sendiri dan popularitasnya, bahkan biasanya tak mau berhenti jadi pejabat walaupun sudah pensiun. Dan prioritas ketiga adalah tanpa prioritas. Saya bisa saja tiba-tiba membenci seseorang dan ingin mengencinginya hanya karena melihat tampangnya. Saya tidak memerlukan alasan lagi pada prioritas ini. Saya memiliki naluri sendiri. Kadang kebencian saya dipicu oleh penderitaan masyarakat. Contohnya, sekarang lagi musim pemberantasan pedagang kali lima. Alasannya sepele. Hanya tak mau melihat kota kotor. Kota dipertahankan bersih, indah, dan sepi dari kotoran. Karena hal itu saya jadi tiba-tiba membenci walikotanya. Saya tulis nama walikota itu, lalu saya kencingi banyak-banyak bahkan berkali. Saya hadiahi ia kencing paling pesing. Rasanya setelah itu saya benar-benar damai dan lega.

“Siapa nama walikota itu kalau boleh saya tahu?”

“Ah, Anda tak perlu tahu. Nanti Anda mengadu saya dengan walikota itu.”

“Kalau boleh saya simpulkan, nama-nama yang Anda kencingi rata-rata orang penting. Pejabat yang memegang nasib rakyat. Atau orang-orang yang mengendalikan pemerintahan. Apa benar begitu?”

“Bisa benar, bisa juga tidak!”

“Maksud  Anda?”

“Sudah saya bilang. Prioritas ketiga, saya bisa saja tiba-tiba benci dan mengencingi nama seseorang. Bisa saja tiba-tiba saya menulis nama bapak saya, lalu saya kencingi padahal paginya, saya masih main catur dengannya!”

“Menurut Anda, siapa yang paling Anda benci saat ini?”

Rico tiba-tiba diam. Diotaknya bermunculan wajah-wajah yang memiliki nama. Ia   hafal betul nama mereka. Rasanya ingin sekali ia menuliskan nama-nama itu, lalu mengencinginya di depan waratawan itu. Biar wartawan itu tahu betapa bencinya ia kepada orang-orang itu.

“Apakah  Anda menyimak pertanyaan saya?”

“Iya, iya, saya mendengarnya. Tapi maaf, saya belum bisa mengatakannya sekarang.”

“Bagaimana kalau saya ajak Anda makan siang?”

“Kemudian Anda akan meminta saya mengencingi nama seseorang?”

“Hemm?”

“Maaf, boleh saya tahu nama Anda?”

“Andi Supangkat!”

Rico mengambil posisi jongkok. Ia menggurat tanah di kakinya dengan sebuah nama dengan jarinya.”Apakah nama Anda seperti ini?”

“Iya, betul!”

Rico tersenyum. Ia membuka restliting celananya dan tanpa diduga-duga oleh wartawan itu, ia telah mengencingi nama wartawan itu dengan mata berkedap-kedip. “Haaah, Anda adalah contoh dari nama yang harus dikencingi pada prioritas ketiga! Maaf.”

(Malang-Surabaya, 010502)

                      TANDA TANGAN

                                                                                  Oleh S. Herianto

 

 

Saat enak-enaknya mengajar, guru Badrul dipanggil menghadap ke kepala sekolah.

“Ada apa, Pak?” tanya guru Badrul.

“Silakan duduk!”

Guru badrul menarik kursi mencari posisi duduk yang nyaman.

“Pak Badrul baik-baik saja?”

“Kenapa bertanya begitu, Pak?”

“Jawab dulu. Bapak baik-baik saja?”

“Seperti yang Bapak lihat, saya baik-baik saja. Always seperti iklan coca-cola!” guru Badrul cekikikan sendiri.

“Begini, Pak. Menurut laporan guru-guru dan sepengetahuan saya sendiri, Bapak mengajar telah menyimpang dari kurikulum. Malah Bapak mengajari anak-anak membuat tanda tangan. Bagaimana bisa begitu, Pak?”

“Ooo, itu. Maaf, Pak,” guru Badrul tampak mulai serius. “Saya tidak merasa melanggar atau menyimpang dari kurikulum. Justru saya mengajar sangat sejalan bahkan kalau dinilai-nilai, saya lebih maju beberapa langkah daripada kurikulum. Artinya saya lebih maju daripada yang lain!”

“Tapi, itu tidak wajar, Pak. Tidak umum!”

“Tapi saya tetap tidak melanggar kurikulum seperti yang Bapak tuduhkan!”

“Tapi, Bapak menyimpang dari apa-apa yang digariskan oleh GBPP?”

“Tidak!”

“Tapi, Bapak hanya mengajarkan bagaimana membuat tanda tangan dan tak lebih dari itu. Itu melanggar namanya!”

“Tidak, saya tetap tidak merasa melanggarnya!”

“Bapak tidak pernah mengajarkan apa dan bagaimana Matematika, Bahasa Indonesia, dan sebagainya. Bapak hanya mengajarkan bagaimana membuat tanda tangan!”

“Bapak salah menilai saya. Justru dari tanda tangan itulah saya bertolak. Justru dari tanda tangan itu saya memulai start. Saya dapat mengajarkan Matematika atau apapun hanya melalui bagaimana cara membuat tanda tangan yang baik dan benar.”

Sang kepala sekolah itu tampak berusaha sabar dan mencari rasionalitas dari penjelasan Pak Badrul.

“Bapak tidak tahu bagaimana pentingnya sebuah tanda tangan. Tanda tangan itu kepribadian, Pak. Lebih tinggi nilainya dari sekedar PPKn atau moral apapun, tapi tentunya masih jauh di bawah agama. Tanda tangan adalah jatidiri seseorang. Tanda tangan adalah jatidiri yang harus selalu dijaga kerahasiaanya karena terlalu privasif. Hanya gara-gara seseorang menyepelekan tanda tangan, negeri ini tumbuh menjadi negeri yang tak punya jatidiri. Tak punya kejujuran. Tak punya inisiatif;suka meniru. Lebih buruk lagi, gara-gara menyepelekan tanda tangan negeri ini bobrok karena banyak malingnya, banyak penipunya.”

Sang kepala sekolah jadi tertarik, semakin diam dan tenang. Dia penasaran akan kelanjutan penjelasan guru Badrul. Tampak guru Badrul tidak pada posisi duduknya, tapi berdiri. Sedangkan kepala sekolahnya, duduk manis seperti seorang murid yang baik.

“Saya mau tanya kepada Bapak dan mohon dijawab dengan jujur. Pernahkan selama sekolah Bapak menerima pelajaran membuat tanda tangan?”

“Tidak pernah!”

“Pernahkah ada guru yang secara khusus melatih murid-muridnya untuk membuat tanda tangan?”

“Tidak juga!”

“Lalu dari mana Bapak memperoleh tanda tangan sendiri?”

Kepala sekolah itu tampak mengernyit.

“Entahlah, mungkin meniru kepunyaan kakak!”

“Persis seperti yang saya hipotesiskan bahwa kita rata-rata meniru. Walaupun tidak persis sama, kita telah meniru bentuk dasar tanda tangan orang lain. Kita peniru, Pak. Kita tidak punya ionisiatif!”

“Awalnya meniru bentuk. Boleh dibilang kita memang tidak punya jatidiri. Dan selama hidup saya yakin bapak telah lebih dari sekali berganti tanda tangan. Masa SD akan berbeda dengan masa SMP. Begitu juga pada masa SMA dan seterusnya akan berbeda. Kita terlambat membentuk jatidiri, Pak. Itulah alasan saya selalu mengajar bertolak dari cara membuat tanda tangan. Saya berharap generasi berikutnya tidak lagi sebagai generasi peniru, penipu. Mereka harus punya inisiatif dan jatidiri….”

“Permisi, Pak.” tiba-tiba Punki, anak kelas 3 nyelonong masuk ingin memperlihatkan tanda tangan bikinannya.

“Bagaimana, Pak” tanya Punki.

“Bagus. Kamu buat sendiri?” tanya guru Badrul.

“Iya, Pak.”

“Tidak meniru kepunyaan temanmu?”

“Tidak, Pak.”

“Bagus. Pertahankan itu sampai kamu besar nanti. Jangan perlihatkan bagaimana cara membuatnya kepada siapapun. Paham?”

Punki mengangguk sambil tersenyum.

Guru Badrul mengeluarkan ballpoint dari sakunya dan mengganjar Punki dengan nilai seratus plus dan hati puas. Punki berteriak ‘hore’ sambil berlari menuju kelasnya.

Besoknya, guru Badrul mendapatkan surat resmi dari kepala sekolah. Dia dinyatakan diberhentikan mengajar dan dipindahtugaskan menjadi staf TU sekolah itu. Tapi, guru Badrul menolak, dia mempunyai pilihan sendiri yakni berhenti menjadi pegawai Republik Indonesia. Dia memilih menjadi pedagang ‘saja’.

 

Alhamdulillah {Sumenep, 050202}